Blog

KAMU SEBENARNYA SAKIT ATAU TIDAK PUNYA PENYAKIT?

Tahu nggak definisi sakit?
Menurut wikipedia Indonesia, sakit adalah pandangan (persepsi) seseorang bahwa kesehatannya terganggu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sakit adalah perasaan tidak nyaman di tubuh atau bagian tubuh karena menderita sesuatu.

Kedua definisi ini menarik karena diawali dengan pandangan dan perasaan.

Jadi, pada faktanya ada orang yang tidak punya penyakit apapun tapi ia punya persepsi bahwa dirinya sakit. Tapi, ada juga yang menderita suatu penyakit, tapi ia tidak merasa terganggu, melainkan hidupnya baik-baik saja.

Maka, obrolan ini membawa kita ke level psikologis soal penyakit.

Intinya,kamu bisa saja sakit meskipun tidak punya penyakit. Atau sebaliknya, kamu bisa tetap merasa sehat meskipun kamu punya penyakit.

Bukan Sekedar Permainan Kata

Kesannya memang seperti permainan kata. Tapi maknanya amat berbeda.

Makanya, ketika Lien Auliya Rachmach divonis gagal ginjal oleh dokter. Dunianya sempat runtuh sesaat tapi akhirnya ia bangkit. Ia tahu ia menderita penyakit tapi berusaha tidak sakit. Maka, dengan penyakit di tubuhnya ia tetap berusaha mewujudkan mimpi-mimpinya. Hingga akhirnya,ia bisa hidup cukup lama untuk bisa menikah, bahkan menulis buku-buku untuk menginspirasi orang. Novelnya “Ya Tuhan, Aku Divonis Gagal Ginjal” tetap menjadi novel yang inspiratif. Bayangkan kalau Lien Aulia membiarkan dirinya terpuruk terus menerus gara-gara penyakitnya dan menunggu hingga ajal menjemputnya? Maka, kita tidak akan mengenal sosok Lien Auliya yang inspiratif semasa hidupnya.

Begitupun saat Stephen Hawking divonis dengan penderitaan penyakit amyotrofik lateral sklerosis (ALS) yang membuatnya cacat. Ia tidak meratap dalam kesakitannya. Ia punya penyakit bawaan. Tapi ia menolak untuk sakit. Ia hidup bersama penyakitnya lebih dari 50 tahun. Bahkan kecerdasannya membuat ia menjadi fisikawan terkenal. Ia menulis dan membuat banyak teori yang membuat dunia kagum. Ia menderita penyakit, tapi ia memutuskan tidak mau menjadi sakit.

Sebaliknya pula. Kita melihat banyak yang sebenarnya tidak punya penyakit. Tapi mereka merasa sakit. Bahkan saya punya seorang peserta training yang begitu ketakutan akan sakit sampai-sampai ia bilang, “Sekarang aku tidak sakit tapi aku begitu kuatir sampai-sampai beberapa tahun ini aku tidak melakukan apapun. Termasuk bidang sinematografi yang aku sukai. Padahal aku punya banyak ide untuk bikin film-film pendek tapi semuanya aku batalkan. Aku begitu takut aku sakit. Tapi dengan kondisi sekarang ini, yang tak melakukan apapun, sebenarnya aku sangat tersiksa”. Saya pun akhirnya memberikan coach baginya untuk bisa tetap menghidupi mimpi-mimpinya dengan menjadikan panyakitnya dulu sebagai “kewaspadaan”. Tapi bukan berarti ia harus membuang mimpinya.

Yang lebih parah adalah seorang kenalan saya. Seorang bapak pekerja yang sekarang memutuskan fokus di saham. Dulunya ia bekerja di bidang otomotif. Sayangnya, ia begitu ketakutan akan sakit. Tiap hari bicara soal obat-obatan dan kesehatan. Sedikit sakit saja,baginya adalah hal yang besar. Padahal hasil cek up rutin yang dia jalani menunjukkan bahwa kondisi kesehatannya baik-baik saja. Artinya apa? Secara fisik bisa saja orang ini tidak punya penyakit, tapi pikirannya percaya bahwa dia sakit.

Kekuatan Pikiran
Adalah Bill Porter, kisah seorang salesman sabun Watkins yang jualan door to door. Ia membawa penyakit cacat bawaan celebral palsy sejak kecil. Tapi ia sukses menjadi salesman of the year. Kisah hidupnya bahkan difilmkan. Yang menarik adalah ketika ia ditanya, “Bagaimana cacat dan penyakit bawaanmu itu menganggu dirimu?” Tahukah jawabannya? Inilah jawaban kerennya: “Cacat? Penyakit? Penyakit dan cacat apaan? Aku nggak merasakannya tuh!”.

Lihatlah mentalnya Bill Porter. Jelas-jelas ia menderita penyakit dan cacat bawaan ceberal palsy tapi ia menolak menyerah dan kalah oleh cacat dan bawaannya. Maka ia pun terus berusaha dan bangkit. Bahkan bisa melampaui apa yang biasanya dilakukan oleh orang normal.

Maka disinilah kekuatan pikiran bekerja. Sakit atau tidaknya sungguh banyak ditentukan oleh pikiran kita. Kalau kamu merasa sakit, meskipun kamu tidak punya penyakit. Tetap saja kamu akan sakit. Tapi, kalau kamu merasa sehat, meskipun punya penyakit, maka kamupun akan berasa lebih sehat. Jadi, disinilah pikiranmu akan berbicara nyaring.

Eits, jangan salah lho ya.
Ini bukanlah bicara soal menolak kenyataan. Ini bukan juga menolak vonis dokter. Ini bicara soal bagaimana cara kita menjalani hidup kita, meskipun dengan sesuatu penyakit yang ada di tubuh kita.

Ini juga berarti kita tetap menjalani terapi, tetap minum obat secara rutin juga menjaga kondisi tubuh kita. Tapi, yang juga sama pentingnya adalah pandangan serta pikiran kita, untuk tidak larut dalam pelukan monster yang namanya “rasa sakit”.

Dokter pun Harus Peka
Bayangkan inilah pengalaman yang nyata terjadi. Ketika salah satu keluarga kami dicek lab dan hasilnya menunjukkan adanya penyakit kanker. Dengan santainya dokter berkata, “Apa boleh buat kalau memang itu hasilnya. Ya hidup senang-senang aja dengan sisa hidup yang ada”. Ketika ditanya, “Berarti jangan ngapa-ngapain lagi?”. Dokternya, “Lha mau ngapain lagi, dengan hidup yang tersisa itu,nikmati aja”. Bayangkan bagaimana jawaban dokter itu punya dampak psikologis. Ibaratnya, dengan kata lain, diibaratkan dokternya berkata, “Karena kamu sudah divonis mati ya sudah, artinya hidupmu sudah berakhir”.

Tak heran ada kritikan pedas dalam buku “When Doctor Don’t Listen” karya Dr. Leana Wen yang kemudian menjadi kritik tersendiri bagi para dokter. Intinya, dokterpun harus berusaha berempati. Menariknya seperti kata Leana Wen, banyak dokter yang tahu tapi tidak merasakan. Terkadang, kalimat-kalimat kejam yang keluar dari mulut para dokter oun bisa menjadi vonis mati bagi pasien.

Ini bukan berarti dokter harus menipu atau mengatakan yang baik-baik. Tapi, minimal dokter pun harus mempertimbangkan kata-katanya agar jangan membuat pasien yang menderita penyakit menjadi bertambah sakit.

So, sakitkah kamu?

Anthony Dio Martin
Writer, Inspirator, Speaker, Enteprenuer PT.3S (Spirit, Sehat, Sukses)

Share this:
" data-url="https://3sindonesia.co.id/2019/04/16/kamu-sebenarnya-sakit-atau-tidak-punya-penyakit/" data-width=640 data-height=480> Share

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *